DAAN MOGOT, PEMUDA GIGIH PEJUANG INDONESIA

Daan Mogot, salah satu contoh pemuda yang dapat diteladani kisah perjuangannya demi tanah air Indonesia

REVIEW NOVEL HUJAN

Novel terbaru karangan Tere Liye berjudul Hujan yang menceritakan kehidupan seorang gadis bernama Lail, salah satu korban selamat dari bencana gunung meletus skala 8 VEI.

AYAT-AYAT CINTA 2

Sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazy, merupakan lanjutan dari Ayat-Ayat Cinta 1 yang mengkisahkan hidup seorang muslim Indonesia bernama Fahri.

REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU

Sebuah review novel karya Tere Liye. Novel yang mengisahkan jawaban atas pertanyaan berkecamuk milik Ray atas apa yang ia peroleh sepanjang hidupnya.

FT : SUNDERLAND VS MU 2-1

Bertandang ke Stadium of Light, MU justru kembali tersungkur. Perjalanan menembus empat besar pun kian sulit.

DILAN

Sebuah novel karya Pidi Baiq yang mengangkat kisah percintaan anak SMA. Ceritanya ringan dan menggemaskan.

FT : CHELSEA vs MU 1-1

Bertandang ke Stamford Bridge, MU harus puas berbagi angka. Sempat unggul melalui gol Jesse Lingard, gol Diego Costa pada menit ke-90 memupus harapan MU untuk membawa pulang poin penuh.

NEGERI DI UJUNG TANDUK

Sebuah review Novel karya Tere Liye : Negeri di Ujung Tanduk

Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2016

HUJAN (Review)


Penulis : Tere Liye
Tebal : 318 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Rp 61.200,00 via Bukukita.com atau Rp 57.800,00 via Gramedia.com

Tahukah anda mengenai film ’2012’? Ya, film tersebut menggambarkan bencana alam yang maha dahsyat yang menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar serta kerusakan yang luar biasa besar melanda sebagian besar permukaan bumi. Novel ‘Hujan’ karangan Tere Liye yang akan saya ceritakan ini kurang lebih memiliki suasana seperti itu. Latar yang dibangun oleh novel ini bernuansa bencana alam yang maha dahsyat, yakni letusan gunung skala 8 VEI disertai dengan gempa bumi 10 SR. Bayangkan, letusannya terdengar hingga jarak 10.000 km dengan material vulkanik yang menyembur ke udara bersuhu hingga 5000 °C dan menyapu bersih semua kehidupan dalam radius 200 km hanya dalam hitungan menit. Gempa yang ditimbulkan pun mampu membuat gedung-gedung kokoh berjatuhan bahkan pada jarak 3.200 km.

Sedikit gambaran mengenai gunung meletus yang diceritakan dalam novel ini. Gunung meletus diklasifikasikan dalam skala 0-8 VEI (volcanic explosivity index). Gunung Tambora meletus tanggal 5 April 1815 dengan skala 7 VEI. Suara ledakannya terdengar hingga 1.200 km. Perubahan iklim pun terjadi, bahkan abu letusannya menutupi langit hingga belahan benua lain hingga tahun tersebut dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Gunung Krakatau meletus tanggal 26 Agustus 1883. Letusannya juga terdengar hingga ribuan km, menimbulkan tsunami belasan meter, namun skalanya masih lebih rendah dibanding Tambora, yakni 6 VEI. Letusan Gunung Toba 73.000 tahun silam merupakan contoh letusan gunung skala 8 VEI. Bayangkan, kekuatan letusannya 100 kali lebih hebat dibanding Tambora. Abu letusannya menutup separuh lebih permukaan bumi. Selama enam tahun bumi dilanda musim dingin berkepanjangan. Penduduk bumi yang saat itu baru berkisar 1 juta orang, pasca bencana hanya tersisa 10.000 orang. So, bisa dibayangkan bagaimana suasana bencana gunung meletus skala 8 VEI yang akan menjadi latar pada novel ini.

Tokoh utamanya adalah seorang gadis bernama Lail. Saat bencana terjadi, ia masih duduk dibangku SMP. Kedua orang tuanya turut menjadi korban bencana tersebut. Seorang laki-laki yang hanya berusia kira-kira dua tahun lebih tua dari dirinya menjadi sosok penting bagi Lail karena berkat pertolongannya, Lail selamat. Laki-laki tersebut bernama Esok. Hari-hari berikutnya, mereka pun berjuang bertahan hidup bersama di tempat penampungan menghadapi perubahan iklim dengan sumber daya terbatas. Saat kondisi membaik, keduanya terpisah oleh jarak. Lail hidup di sebuah panti sosial yang memang disediakan bagi anak-anak korban bencana alam, sementara Esok bernasib lebih beruntung mengingat dirinya diangkat sebagai anak dari seorang walikota dan mendapat kesempatan untuk meraih pendidikan yang tinggi. Jarak yang tercipta antara keduanya, tanpa sadar menumbuhkan benih cinta di hati Lail, namun Lail cenderung menahan perasaannya hingga Lail pun tak pernah berani untuk memulai komunikasi terlebih dahulu. Lail pun hanya berharap Esok akan menghubunginya atau menemuinya walaupun hanya sesaat. Konflik yang dialami keduanya masih kalah besar dibanding konflik perubahan iklim yang melanda dunia. Menurut saya, melihat usaha dan sikap manusia untuk menghadapi perubahan iklim yang diceritakan pada novel ini menjadi poin yang lebih menarik untuk disimak. Usaha tersebut menimbulkan hal yang justru tidak diharapkan oleh semua pihak dan berdampak buruk bagi bumi.

Overall, novel ini masih cukup recommended untuk dibaca. Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya justru lebih tertarik dengan latar dan situasinya yang menggambarkan bencana alam dibandingkan dengan kisah romansa antara Lail dan Esok dimana semua hal tersebut memiliki hubungan yang erat dengan kata ‘Hujan’ yang menjadi judul novel ini. Epilog yang disertakan diakhir novel ini memperjelas pesan yang ingin disampaikan penulis. Berikut beberapa kutipan kata menarik dari novel ini.

 “Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu.”

“Kamu tahu kenapa kita mengenang banyak hal ketika hujan turun? Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya."

“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian."

"Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta."

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."

Minggu, 28 Februari 2016

AYAT-AYAT CINTA 2 (Review)


Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Tebal : 697 halaman
Penerbit : Republika
Rp 95.000,00 (online via www.bukukita.com plus bonus buku Ayat-Ayat Cinta 1)
Rp 80.750,00 (www.gramedia.com)

Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy (biasa dikenal juga sebagai 'Kang Abik') yang pertama kali terbit pada tahun 2004 silam merupakan salah satu novel yang cukup fenomenal. Pada tahun 2008, Ayat-Ayat Cinta diangkat ke layar lebar dan sukses menarik penonton dengan jumlah yang cukup fantastis. Ayat-Ayat Cinta menjadi awal dari karya-karya beliau yang tak kalah populer seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ketika Cinta Bertasbih 2, Bumi Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, dan Api Tauhid. Saat mendengar kabar bahwa Ayat-Ayat Cinta 2 sudah terbit dan mulai dipasarkan akhir tahun 2015 lalu, saya langsung bergerak cepat untuk bisa membeli novel yang satu ini. Novel beliau yang selalu menyisipkan unsur islami serta pesan dakwah menjadi salah satu alasan mengapa saya sangat menyukai karya-karya beliau.

Ayat-Ayat Cinta mengisahkan seorang pemuda muslim Indonesia bernama Fahri yang dalam kesehariannya selalu berusaha untuk menjadi pribadi muslim sejati meskipun kian sulit di era seperti sekarang ini. Dikisahkan bahwa Fahri menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Al Azhar Kairo, kemudian melanjutkan Ph.D-nya di Universitas Freiburg, Jerman dan saat ini mengambil post-doc di Universitas Edinburgh, Skotlandia. Latar Ayat-Ayat Cinta 2 ini memang terpusat di sekitaran Skotlandia, khususnya Edinburgh tempat Fahri menempuh pendidikannya saat ini.

Pada awal cerita, pembaca langsung dibuat terkejut tatkala diceritakan bahwa Fahri telah berpisah dengan istri tercintanya, Aisha. Pembaca pasti akan menebak-nebak apakah Aisha telah bercerai dengan Fahri atau ada alasan lain yang membuat Fahri berpisah dengan Aisha. Selanjutnya, konflik terarah kepada keseharian Fahri yang harus hidup di tengah-tengah tetangganya yang mayoritas adalah non muslim. Mereka inilah yang akan membawa peranan besar dalam membawa alur cerita Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2. Berikut adalah tetangga Fahri yang ada diceritakan dalam novel ini :
Nenek Caterina - Seorang nenek Yahudi yang sangat taat dan tinggal menyendiri, sementara anaknya (bukan anak kandung) justru tidak peduli terhadap ibunya sendiri. 
Nona Janet dan kedua anaknya, Keira dan Jason - Sebuah keluarga Nasrani yang sangat membenci umat islam (Islamophobia) terkait insiden Bom London yang menewaskan salah satu anggota keluarga mereka. Mereka mendengar kabar bahwa pelakunya adalah muslim.
Brenda - Seorang wanita Nasrani yang tinggal seorang diri, cukup baik, ramah dan peduli terhadap tetangganya. Awalnya ia suka hidup mewah dan suka mabuk-mabukan.
Sabina - Seorang wanita muslimah yang rusak wajahnya dan hidup dengan mengemis 
Kebencian Keira dan Jason terhadap islam sering dilimpahkan kepada Fahri berupa beberapa tindakan yang cukup mengusik ketenangan hidup Fahri. Fahri pun melancarkan beberapa misi dengan tujuan untuk meluruskan pola pikir Keira dan Jason. Tentunya, bukan melalui jalan kekerasan karena Fahri berpikir jika jalan tersebut yang ia pilih justru akan semakin menambah dalam luka mereka. Sabina yang tinggal menumpang di rumah Fahri pun turut membantu, terutama dalam merawat Nenek Caterina. Konflik lainnya berkutat pada batin Fahri yang masih belum bisa melepas kepergian Aisha, sementara saran agar Fahri segera menikah lagi semakin besar. Puncaknya, saat ia dicalonkan dengan wanita asal Turki yang bernama Hulya yang seakan memiliki kemiripan dengan Aisha. Diterima atau tidaknya Hulya, silahkan dibaca sendiri novelnya, hehee ... Ada cerita menarik juga mengenai Sabina yang sebaiknya lebih enak jika pembaca langsung membaca novelnya.

Overall, konflik yang ada pada novel ini cenderung lebih soft dibandingkan dengan Ayat-Ayat Cinta 1. Seakan tidak ada klimaks yang 'WOW' seperti saat Fahri menang di pengadilan saat Ayat-Ayat Cinta 1. Misteri tentang 'ada apa dan bagaimana Aisha saat ini?' pun sebenarnya sudah bisa ditebak di tengah-tengah cerita. Tokoh Fahri di Ayat-Ayat Cinta 2 pun dapat dianggap jauh lebih sempurna dibandingkan Ayat-Ayat Cinta 1, pasti banyak pembaca yang berkomentar mengenai tokoh Fahri yang terlalu sempurna.

Lantas, apakah novel ini masih recommended untuk dibaca? Saya jawab masih. Jujur, yang saya harapkan dari novel ini bukan hanya sekedar cerita, namun lebih kepada pesan yang coba disampaikan penulis kepada para pembacanya. Pesan dakwah dan muatan ilmu islami di dalamnya sangat kental. Beberapa diskusi dan debat ilmiah yang dilakoni Fahri seakan terbayang seperti tokoh 'Zakir Naik' yang saat ini terkenal juga akan kepiawaiannya dalam berdebat tentang keislaman. Kesempurnaan tokoh Fahri di novel ini pun kiranya untuk menggambarkan bagaimana pribadi seorang muslim seharusnya. Tokoh Fahri mungkin terlalu sempurna bagi kita, namun bukankah seharusnya kita menuntut diri untuk berperilaku sepertinya. Gaya menulis Kang Abik yang detail juga menjadi keunggulan bagi karya-karyanya. Bahkan mengenai latar, saya berpendapat bahwa ia mampu memancing pembacanya untuk bisa menggambarkan bagaimana kondisi keindahan di Edinburgh, Skotlandia. So, silahkan dicoba untuk membaca novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini. Saya pun mulai membayangkan apabila novel ini difilmkan dengan Fedi Nuril sebagai Fahri, lalu siapa yang akan menjadi Hulya, Keira, Jason, dan Sabina?

Semoga bermanfaat.


Minggu, 14 Februari 2016

REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU (REVIEW)


Penulis : Darwis 'Tere Liye'
Penerbit : Republika
Tebal : 425 Halaman
Harga : Rp 51.000,00 (online by www.gramedia.comwww.bukukita.com)

Usai membaca beberapa novel karangan Tere Liye sebelumnya, seperti Negeri di Ujung Tanduk, Berjuta Rasanya, Sepotong Hati yang Baru, serta Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, saya jadi ketagihan untuk membaca karya-karya beliau selanjutnya. Setelah memilah-milah, akhirnya saya putuskan untuk membaca novelnya yang berjudul 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu'. Cover novel ini memperlihatkan seseorang yang sedang duduk sembari menatap matahari tenggelam di sore hari. Alur ceritanya cukup menarik dengan kisah perjalanan hidup yang penuh dengan drama menjadi fokus utama novel ini. Terselip juga sisi romantisme dan komedi yang menjadi bumbu penyedap. Seperti pada umumnya novel karya Tere Liye, selalu ada makna dan nilai yang dapat diambil oleh para pembacanya. Banyak quotes menarik yang dapat membuat pembacanya tersihir oleh makna didalamnya. 

Novel 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu' menceritakan perjalanan hidup seorang pria bernama Rehan yang sejak balita sudah yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Ia sangat gemar memandangi rembulan. Ketika ada masalah pun, ia lebih senang mencari tempat yang agak tinggi, lalu menikmati indahnya rembulan. Rehan sangat membenci panti asuhan tempat ia tinggal mengingat perilaku kasar dan kegemaran buruk sang pemilik panti yang suka mengambil sebagian hak anak yatim. Saat berusia remaja, ia memutuskan untuk pergi dari panti. Selanjutnya, Rehan lebih dikenal sebagai Ray. Ia sempat tinggal di sebuah rumah singgah. Bersama dengan anak-anak rumah singgah lainnya, ia pun berkarya demi mewujudkan cita-citanya. Ketika impiannya sudah di depan mata, sebuah insiden buruk terjadi. Ray pun memutuskan untuk keluar dari rumah singgah dan merantau seorang diri.

Bermula dari menjadi seorang mandor, Ray perlahan sukses membangun karir bisnisnya. Ia pun sukses besar berbagai macam proyek pembangunan, baik gedung bertingkat tinggi maupun jalan layang. Tak dapat dipungkiri lagi, ia pun terkenal sebagai salah seorang pebisnis muda yang sukses. Ia juga dikaruniai seorang istri cantik nan jelita serta baik hati yang setia menemani Ray setiap saat. Namun, istri tercintanya tersebut harus meninggalkan dirinya lebih awal untuk menghadap Sang Pencipta. Sepeninggal istrinya, Ray masih menekuni bisnisnya. Saat memasuki usia senja, waktunya banyak dihabiskan keluar-masuk rumah sakit seiring tubuhnya yang rentan akan penyakit.

Dibalik semua cerita kehidupan Ray, ia menyimpan banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Rasa sesal dan benci bahkan ungkapan rasa tak bersyukurnya pada Tuhan pernah beberapa kali tertanam dalam hatinya. Lima pertanyaan besar Ray dalam hidupnya adalah sebagai berikut :
Pertama : Apakah semua manusia, termasuk Ray, tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan? Haruskah Ray tinggal di panti asuhan yang pemiliknya kasar dan suka mengambil sebagian hak anak yatim?
Kedua : Apakah hidup ini memang adil? Ray merasa hidup ini telah merenggut senyum teman-temannya saat mereka kecewa karena gagal mencapai impiannya ketika mimpi tersebut telah terasa di depan mata.
Ketiga : Ketika Ray telah bahagia mendapatkan seorang istri cantik nan jelita, serta membuat hidupnya kini lebih baik, mengapa takdir begitu cepat memanggil nyawa istri tercintanya?
Keempat : Setelah meraih kesuksesan bisnis luar biasa, mengapa Ray masih merasa ada rasa hampa dan kosong dalam dirinya seolah masih ada sesuatu yang ia rasa belum tercapai?
Kelima : Ketika memasuki usia senja, mengapa Ray harus sakit berkepanjangan, keluar-masuk rumah sakit demi mendapatkan perawatan?  
Semua jawaban dari pertanyaan Ray tersebut diceritakan bagaikan Ray menelusuri ulang perjalanan hidupnya sejak ia kecil ketika masih tinggal di panti. Seolah hidup ini menuntunnya sekaligus mengajarkannya untuk melihat lebih jelas dan detail dari sudut pandang yang sebelumnya mungkin belum pernah dlihat Ray. Hingga akhirnya, ia melihat kenyataan-kenyataan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seolah semua kejadian dalam hidupnya bagai rantai yang tak pernah putus menghubungkan satu sama lain. Ia pun harus ikhlas dan berlapang dada atas segala fakta yang baru ia ketahui tersebut.

Bagi para pembaca, kisah Ray ini akan mengajarkan kepada kita banyak hal. Semua kejadian di dunia ini pasti memiliki makna, baik ataupun buruk. Semua kejadian juga memiliki rangkaian sebab-akibat yang mungkin selama ini luput dari penglihatan kita. Selalu berbuat dan berprasangka baik adalah salah satu cara efektif dalam memandangi hidup. Saya pribadi sangat merekomendasikan novel ini. Kisahnya dapat menjadi wisata fiksi menarik bagi pembacanya. Sekali lagi, karya Tere Liye ini patut diacungi jempol.

Berikut beberapa quotes dari novel 'Rembulan Tenggelam di Wajahmu' :

"... mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang akan mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejaidan menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagiorang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain"

"Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi"

"Apa pun bentuk kehilangan itu, ketahuilah cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan dari sisi yang ditinggalkan ..."

"Kau mirip sekali seperti anak kecil yang sudah memiliki mainan, saat melihat anak lain mendapatkan mainan yang baru, kau juga menginginkannya"

"... aku tidak membutuhkan itu semua. Rumah besar, mobil, berlian. Bagiku kau ikhlas dengan semua yang kulakukan untukmu. Ridha atas perlakuanku padamu. Itu sudah cukup"

"... begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu. Ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri"

Minggu, 15 November 2015

DILAN : Dia adalah Dilanku Tahun 1991 (Review)



Pada artikel yang belum lama ini saya tulis, saya telah menuliskan review mengenai novel berjudul DILAN : Dia adalah Dilanku Tahun 1990 atau dapat dikatakan sebagai buku pertama dari novel DILAN. Untuk review yang akan saya tulis ini, merupakan lanjutan dari novel tersebut atau disebut sebagai buku keduanya. Pasca membaca buku  pertamanya, cerita yang menarik membuat saya ingin segera membaca lanjutan kisahnya di buku kedua. Bagi yang ingin tahu review buku pertama DILAN, bisa mengunjungi artikel saya di sini : DILAN : Dia adalah Dilanku Tahun 1990

Secara garis besar, novel DILAN menceritakan kisah cinta sepasang remaja tingkat SMA, yakni MILEA sang tokoh utama wanita di novel ini, sementara DILAN menjadi tokoh utama pria. Pada buku  pertama, diceritakan tentang awal mula pertemuan MILEA dan DILAN hingga akhirnya pacaran. Indahnya masa-masa pdkt, digambarkan dengan baik di buku pertama. Untuk buku keduanya, cerita lebih mengarah kepada konflik yang terjadi saat MILEA dan DILAN pacaran. Seolah-olah kita sebagai pembaca diajak untuk mengenal lebih jauh sosok DILAN lebih dari sekedar sosok yang menyenangkan seperti di buku pertama. Ibarat orang pacaran, kita akan mengenal lebih dalam pasangan kita saat sudah pacaran dibanding saat pdkt. Konflik yang diceritakan seputar aktivitas DILAN sebagai anak geng motor, hubungan DILAN dengan keluarganya, hingga karakter DILAN saat menghadapi masalah antara dirinya dengan MILEA. Munculnya beberapa tokoh baru, juga cukup memberikan bumbu konflik yang sangat sedap pada buku ini. Kejutan tak terduga juga tersaji pada novel ini. 

Beberapa pembaca yang sudah membaca novel ini ada yang merasa gregetan serta merasa 'gantung' pada ending-nya. Opini pembaca pasti akan berbeda-beda. Menurut saya, buku kedua DILAN ini jauh lebih serius konfliknya dibanding buku pertamanya. Bagi yang sudah membaca buku pertamanya, highly recommended buat baca buku keduanya. Bagi yang belum baca sama sekali, saya sarankan agar membaca dari buku pertamanya. Buku ketiganya? Mungkin sedang digarap oleh sang penulis, yakni Pidi Baiq sekaligus menjawab pertanyaan para pembaca yang bertebaran usai membaca buku keduanya. 

Minggu, 18 Oktober 2015

DILAN : Dia adalah Dilanku Tahun 1990 (Review)



Beberapa waktu yang lalu, saya baru selesai membaca sebuah novel yang berjudul Dilan. Awalnya, hanya penasaran karena teman-teman kantor sering membicarakannya. Saya pun akhirnya meminjam novel ini pada salah satu teman kantor dan selesai membacanya dalam kurun waktu dua hari. Dibandingkan dengan novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya, yakni novel-novel karangan Tere Liye dan Kang Abik, novel Dilan ini memiliki cerita yang lebih ringan. Novel karangan Pidi Baiq ini mengangkat kisah cinta sepasang anak SMA, yakni antara Dilan dan Milea. Kisah cinta masa SMA yang penuh dengan keceriaan akan membuat anda yang membacanya senyum-senyum sendiri.

Novel ini mengambil sudut pandang sang wanita yang menjadi tokoh utama, yakni Milea. Milea yang satu SMA dengan Dilan menceritakan bagaimana awalnya ia merasa risih hingga akhirnya jatuh hati dengan Dilan. Milea bercerita bahwa Dilan berusaha mendekatinya dengan berbagai macam cara yang terbilang cukup unik (anti mainstream) dan berbeda dengan teman-teman lainnya yang juga berusaha mendekatinya. Suatu waktu, Dilan sok menjadi peramal dengan bilang kepada Milea bahwa suatu saat Milea akan duduk berboncengan motor dengan Dilan. Dilan juga meramal bahwa suatu saat Milea akan jatuh cinta kepadanya. Saking seringnya berbuat unik, Milea merasa kehilangan sesuatu apabila Dilan tidak melakukannya satu hari saja. 

Keunikan lainnya terjadi saat Milea ulang tahun. Coba bayangkan, siapa yang berpikir bahwa TTS adalah hadiah ulang tahun yang tepat untuk orang yang dicintainya? Dilan melakukan itu. Untuk alasannya, bisa anda temukan sendiri saat membaca novel ini nanti. Ada pula kiriman coklat dari Dilan yang dikirimkan melalui perantara yang berbeda-beda, kadang tukang pos, tukang sayur, tukang roti ataupun tukang-tukang lainnya. Saat Milea resmi jadian dengan Dilan, Dilan menulis sebuah pernyataan yang dibuat seperti naskah proklamasi berisi tentang hubungan Milea dan Dilan yang resmi pacaran. Dilan juga menyiapkan materai untuk ditandatangani seakan-akan pernyataan tersebut sebuah surat penting.

Secara keseluruhan, novel ini sangat nikmat untuk dibaca. Ceritanya yang ringan dan penuh dengan keceriaan cinta masa SMA membuat anda merasa tenggelam di dalamnya. Bahkan bagi yang sudah jauh dari masa SMA-nya, bisa menjadi ajang nostalgia mengingat masa-masa percintaan anak SMA. Novel ini juga mengajarkan betapa asyiknya menjadi diri sendiri yang digambarkan oleh tokoh Dilan. Ia tidak peduli bagaimana orang lain mendekati Milea, ia selalu yakin dengan dirinya sendiri dan bebas tanpa tergantung apapun. Ia juga pintar dalam hal mengistimewakan orang yang dicintainya hingga Milea merasa nyaman berada di dekatnya. Novel ini masih ada edisi keduanya yang baru nongol di toko buku kesayangan anda beberapa minggu terakhir ini. Nah, tunggu apalagi, segera baca novelnya dan nikmati keunikan tingkah Dilan di dalamnya.

"Cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan"
by Milea

Jumat, 03 Januari 2014

Negeri di Ujung Tanduk (Quotes)


Setelah membaca novel 'Negeri di Ujung Tanduk' karangan Tere Liye, berikut ini beberapa quotes yang cukup menarik untuk disimak.

".... kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan, atau sumber daya. Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk ..."

"... masalah terbesar bangsa kita adalah penegakan hukum. Hanya itu. Sesederhana itu. Kita tidak hanya bicara soal soal hukum dalam artian sempit, seperti menangkap orang-orang jahat. Melainkan hukum secara luas, yang mengunci sistem agar berjalan lebih baik, membuat semua orang merasa nyaman dan aman. Jika hukum benar-benar ditegakkan di muka bumi negeri ini, banyak masalah bisa selesai dengan sendirinya"

"Siapa yang sebenarnya memiliki sebuah partai politik, hadirin sekalian? Siapa? Bukankah banyak partai yang dikuasai elitenya saja. Apa kata elite, semua harus ikut. Jika elite pimpinan partai bilang A, semua anggota harus bilang A. Jika menolak, ditendang dari kepengurusan, disingkirkan. Saya sungguh bingung dengan pertanyaan ini, karena kenyataannya, sebaliknya,, siapa yang bekerja paling besar untuk kemajuan partai? Apakah mereka? Ratu? Presiden direktur? Elite partai?" ....... Bukankah kita semua, kader paling hina, yang bekerja keras siang-malam untuk partai? Kita sumbangkan uang untuk partai. Kita urunan untuk menyewa bus agar bisa menghadiri rapat terbuka. Kita mengeluarkan uang yang kita miliki demi perjuangan. Lantas siapa yang menikmatinya, hah? Siapa yang tertawa? Siapa?"

"Jarak antara akhir yang baik dan akhir yang buruk dari semua cerita hari ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian"

"Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar ..."

"Kau tahu nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal, yaitu suhu dan tekanan yang tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya, maka jika dia bertahan, tidak hancur, dia jsutru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya. Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, maka kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh"
"Di negeri di ujung tanduk, kehidupan semakin rusak. Bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi. Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan. Bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian. Tapi di negeri di ujung tanduk, setidaknya kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir, demi membela kehormatan"
Kemudian, ada sebuah nasihat yang menarik dalam novel ini.

Kata papa, bahkan bila terbakar hangus seluruh keluarga kita, jangan pernah berhenti  peduli. Walaupun terfitnah kejam keluarga kita, hingga rasanya sakit menembus relung hati, jangan pernah berhenti berbuat baik.
Anak-anakku, jadilah orang-orang yang berdiri gagah di depan, membela kebenaran dan keadilan. Jadilah orang-orang yang berdiri perkasa di depan, membantu orang-orang lemah dan dilemahkan. Atau jika tidak, berdirilah di belakang orang-orang yang melakukannya, dukung mereka sekuat tenaga.
Maka, seluruh kesedihan akan diangkat dari hati, seluruh beban akan terasa ringan. Karena akan tiba massanya orang-orang terbaik datang, yang bahu-membahu menolong dalam kebaikan. Akan tiba massanya orang-orang dengan kehormatan hadir, yang memilih jalan suci penuh kemuliaan.
Percayalah. Dan jangan pernah berhenti percaya, meski tidak ada lagi di depan,belakang, kiri kananmu yang tetap percaya.

Itulah beberapa quotes menarik yang dikutip langsung dari novel 'Negeri di Ujung Tanduk' karangan Tere Liye. Semoga dengan membacanya, dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi kita semua.  

Negeri di Ujung Tanduk (Review)


Happy new years bloggers! Selamat Tahun Baru semuanya. Tahun baru, semangat baru, dan senantiasa membuat diri kita semakin baik ke depannya. Semoga semua target yang kita buat di tahun ini bisa tercapai. Amiin. Okay bloggers, kali ini saya mau sedikit share mengenai novel karangan Tere Liye yang berjudul 'Negeri di Ujung Tanduk'. Novel ini merupakan lanjutan dari novel Tere Liye lainnya yang berjudul 'Negeri Pada Bedebah'. Novel 'Negeri di Ujung Tanduk' baru aja selesai saya baca dua hari yang lalu. Ini merupakan novel Tere Liye pertama yang saya baca. Setelah mendengar pendapat beberapa orang bahwa novel-novel Tere Liye bagus, saya pun ingin mencoba membaca salah satunya. Ketika beberapa kali berkunjung ke Gramedia, ada beberapa novel Tere Liye yang cukup menggoda saya seperti 'Sunset Bersama Rosie', Negeri Para Bedebah', 'Negeri di Ujung Tanduk', 'Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin' dan sebagainya. Namun, karena ingin membeli buku yang lain pada akhirnya saya tidak jadi membelinya. Kemudian saya memutuskan untuk meminjam salah satu novel Tere Liye dari teman dan ia meminjamkan 'Negeri di Ujung Tanduk'. Ia pun mengatakan sebaiknya saya membaca 'Negeri Pada Bedebah' terlebih dahulu sebelum membaca 'Negeri di Ujung Tanduk'. Namun nasehatnya saya abaikan dan langsung membaca novel 'Negeri di Ujung Tanduk'

Okay, langsung aja saya ke cerita tentang novelnya. Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Thomas yang bekerja sebagai konsultan politik. Ia mendirikan kantor sendiri bersama orang-orang kepercayaan yang ia pilih sendiri. Ia juga sering menjadi pembicara dalam seminar-seminar tertentu. Bahkan, pada novel ini ia menghadiri suatu konferensi di Hongkong. Reputasinya di dunia politik cukup dikenal banyak orang. Teman-teman media dan wartawan pun sangat segan kepadanya. Pada novel ini juga diceritakan bahwa ia baru saja memenangkan dua pemilihan gubernur bersama kliennya dan saat ini ia sedang berusaha untuk memenangkan salah seorang kliennya yang berinisial JD untuk menjadi calon presiden dari sebuah partai. Thomas memilih mendukung JD karena ia tahu bahwa JD adalah calon presiden yang bersih dan jujur serta bertekad untuk benar-benar menegakkan hukum. Apabila kliennya mampu menjadi calon presiden dari partai tersebut, ia sangat yakin bahwa kliennya akan menjadi kandidat kuat untuk menjadi presiden pada pemilu nanti dan dapat memberikan masa depan yang cerah untuk Indonesia. Penentuan calon presiden partai ditentukan melalui konvensi yang akan digelar partai tersebut dalam beberapa hari ke depan. Thomas dan teman-temannya di kantor pun berjuang mati-matian untuk dapat mewujudkan hal tersebut.

Konflik yang ada pada novel ini bagi saya cukup menegangkan. Pada umumnya, novel-novel yang ada saat ini cenderung lebih mengisahkan tentang percintaan, persahabatan ataupun misteri. Namun,
novel ini menceritakan tentang dunia politik dan kegelapannya yang berkaitan dengan mafia hukum. Bagi saya novel ini berbeda dengan novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Konfliknya mengarah pada bagaimana orang-orang yang tidak menyukai ataupun tidak setuju kepada JD, melakukan segala cara untuk menggagalkan JD menjadi calon presiden. Mereka memulainya dari difitnahnya Thomas yang dituduh sebagai pembawa barang ilegal yang berisi narkoba dan senjata ketika ia sedang berada di Hongkong hingga tuduhan korupsi sebuah proyek yang ditujukan kepada JD. Thomas pun berulang kali harus kabur dari kepungan kepolisian yang mendapat kabar fitnah tersebut. Thomas harus berusaha kabur ketika ia ditangkap oleh kepolisian Hongkong, kemudian kembali ke Indonesia dan di tanah air pun ia harus berlari ke sana kemari untuk dapat menghindar dari kepungan polisi. 

Konflik berlanjut tentang bagaimana usaha Thomas mengungkap orang-orang yang bekerja untuk menggagalkan JD menjadi calon presiden. Ia percaya bahwa JD tidak pernah melakukan perbuatan seperti yang telah dituduhkan. Ia pun menghubungkan bahwa kegiatan ini berhubungan dengan sebuah jaringan besar dan terstruktur yang kemudian disebut sebagai mafia hukum. Dalam usahanya, Thomas dibantu oleh seorang wartawan bernama Maryam yang ia temui di Hongkong, Maggie yang merupakan asisten di kantornya, Kris dan kawan-kawan yang merupakan orang-orang IT yang bertugas untuk menganalisa data dan informasi untuk mengungkap kasus serta beberapa tokoh penting lain yang ada pada novel ini. Kesimpulan diperoleh bahwa segala fitnah yang telah ada dikerjakan oleh sebuah jaringan yang besar dan terencana yang disebut sebagai mafia hukum. Setelah melakukan analisa secara mendalam, diketahui bahwa orang-orang yang terlibat mafia hukum tersebut ternyata meliputi pejabat tertinggi badan penyelidik kepolisian, petinggi partai yang sama dengan partai JD, anggota DPR, pejabat pemerintahan, birokrat kelas bawah, bintara polisi, jaksa, hakim dan beberapa pengusaha. Klimaks pun terjadi ketika Thomas dan kawan-kawan bertarung melawan mafia hukum tersebut. Pertarungan strategi kedua kubu tersebut sangat menarik untuk diikuti. Top markotop pokoknya. Untuk lebih tahu bagaimana ceritanya, saya sangat merekomendasikan untuk membaca novel ini dan kalau perlu dibuat film. Jarang-jarang film Indonesia bertema seperti ini, apalagi bakal ada adegan action-nya. Mari kita tunggu industru film tertarik dengan cerita di novel ini.

Secara keseluruhan saya menyukai novel ini, mulai dari alur ceritanya, konflik di dalamnya, setting, dan pesan moral yang ada di dalamnya. Novel ini seolah menceritakan kepada kita bagaimana sisi gelap dunia politik yang berkaitan dengan mafia hukum yang mungkin saja memang benar adanya pada kehidupan kita. Apalagi di tahun ini kita akan menghadapi pemilu 2014 untuk pemilihan presiden dan wakilnya. Tampaknya, kita harus lebih berhati-hati dalam memilih dan menangkap informasi yang diberitakan di media. Apabila salah, mungkin saja presiden yang kita pilih nanti bukanlah presiden yang bekerja untuk rakyat namun bekerja hanya untuk golongannya, semoga tidak akan terjadi di Indonesia. Selain itu, novel ini juga memberikan pesan bahwa kita harus peduli atas segala kejadian yang ada. Segala peristiwa buruk yang sedang terjadi, apabila kita tidak peduli akan menjadi semakin buruk. Untuk memperbaikinya, kita harus peduli dan berusaha membuat perbaikan bukan mengabaikan.

Setelah membahas sisi positifnya, ada beberapa hal yang tidak saya sukai pada novel ini. Karakter tokoh utama Thomas tampaknya terlalu sempurna dan selalu diliputi oleh keberuntungan. Bayangkan, ia beberapa kali sukses melarikan diri dari kepungan polisi setelah bertemu dengan beberapa tokoh secara kebetulan. Hal ini terjadi beberapa kali ketika ia kabur dari Hongkong, kabur dari salah satu penjara di tanah air serta peperangan puncak ketika melawan mafia hukum di sebuah kapal. Walaupun ini fiksi, tapi lebih seru kayaknya apabila semua tidak terjadi secara kebetulan. Rekomendasi dari saya, alangkah baiknya sebelum membaca novel 'Negeri di Ujung Tanduk' anda membaca terlebih dahulu 'Negeri Para Bedebah'. Apabila anda tidak membacanya dari sana, mungkin terkesan ada tokoh yang muncul tiba-tiba seperti yang saya alami ketika membaca novel ini. 

Pokoknya, secara keseluruhan saya beri nilai 8/10 untuk novel ini. Maju terus karya anak bangsa, semoga tulisan ini bermanfaat!

Untuk melihat beberapa quotes menarik kutipan dari novel ini dapat dilihat pada link di bawah ini :

Senin, 28 Januari 2013

HUJAN PUNYA CERITA TENTANG KITA (Resume)




“Bagiku, hujan menyimpan senandung liar yang membisikkan 1001 kisah. Tiap tetesnya yang merdu berbisik lembut, menyuarakan nyanyian alam yang meembuatku rindu mengendus bau tanah basah. Bulir – bulir yang jatuh menapak di atas daun, mengalir lurus menyisakan sebaris air di dedaunan. Sejuk, mirip embun”

“Hidup seperti ini. Aku bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah sepeninggal hujan. Seperti kanvas putih yang tersapu warna – warna homogen indah. Dentingan sisa – sisa titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang bisa membuatku memejamkan mata. Melodi hidup, aku menyebutnya seperti itu. Saat semua ketenangan bisa kudapatkan tanpa harus memikirkan apa pun”
-Ranggadipta-

***
Namanya Rangga. Seorang lelaki yang saat ini sedang menempuh kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Ia berada di Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sejarah. Menarik ketika ia mengungkapkan alasannya masuk jurusan Sejarah. “Bagiku, sejarah itu menarik dan tetap berhubungan dengan alam juga. Perubahan yang melingkupi peradaban manusia tidak mungkin bisa dibaca kalau nggak ada sejarah, kan?Bagiku, manusia perlu belajar sejarah loh. Bukan untuk meratapi masa lalu sih, lebih tepatnya untuk mengoreksi masa lalu, agar bisa berjalan lebih baik ke depannya”. Ia juga sangat tertarik dengan fotografi dan backpacking. Setiap kemunculannya, ia selalu tak lupa untuk membawa kamera kesayangannya. Dan kini, ia siap memulai  petualangan barunya pada masa KKN.

***
Wanita ini bernama Kinanthi, biasanya orang akrab memanggilnya Kie. Pendiam, tidak terlalu pintar juga tidak terlalu bodoh. Bisa dibilang ia biasa saja. Kuliah di jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Kurang suka dengan orang – orang baru, bisa dibilang ia agak tertutup. Penderita astraphobia, sebuah ketakutan yang berlebihan terhadap petir. Maka dari itu, ia sangat benci hujan. Ketika masa KKN tiba, ia sangat khawatir dengan orang baru – baru di sekitarnya. Ia berharap ada orang yang mungkin bisa dikenalnya nanti.

***
Wanita berparas cantik, tinggi, putih, pintar dan modis sehingga pasti merupakan sosok wanita yang sangat dikagumi oleh para lelaki. Ia memanglah seorang model. Kuliah di  tempat yang sama dengan Rangga dan Kinanthi, serta satu fakultas dengan Kinanthi. Ia adalah Krisanti, biasa dipanggil Krisan. Merupakan teman masa kecil Rangga yang secara mengejutkan kembali dipertemukan pada masa KKN.

***
Azar namanya. Diantara tokoh utama yang ada, tokoh inilah yang memiliki kesan paling intelektual. Ia adalah seorang mahasiswa jurusan Farmasi. Ia juga pernah berprestasi di tingkat internasional. Selalu menjadi teman yang baik bagi Kinanthi dan Rangga. Dan secara tidak langsung ada rasa yang harus dikorbankan untuk para sahabatnya.